|
|
| Headline |
Isu Liberalisme Dinilai Tak Relevan Dibicarakan Jelang Muktamar
Jumat, 20 November 2009 13:30:12 |
Jakarta, Muktamar
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj dan Masdar Farid Mas’udi menilai isu liberalisme Islam yang berkembang menjelang pelaksanaan Muktamar ke-32 NU di Makassar tidak relevan dibicarakan. Ada banyak isu yang lebih penting dibicarakan menjelang muktamar.
Said Aqil Siradj mengatakan, liberalisme Islam sudah terjadi pada masa awal pengembangan Islam, tepatnya setelah Nabi Muhammad SAW meninggal, dan diteruskan pada periode berikutnya. Bebagai gagasan yang dikembangkan Ibnu Sina di bidang filsafat, Ar-Razi di bidang kedokteran, dan Al-Hallaj di bidang tasawuf adalah contoh bagaimana pemikiran liberal ini sudah ada sejak dulu. |
Empat Kandidat Ketua Umum PBNU Tampil di Padang
Minggu, 15 November 2009 10:21:20 |
Padang, Muktamar
Empat orang pentolan NU yang diproyeksikan sebagai kandidat ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tampil sebagai narasumber dalam pertemuan terbatas di Padang, Sabtu (14/11) kemarin. Mereka adalah Salahuddin Wahid, KH Masdar, Andi Jamaro dan Slamet Effendi Yusuf.
Keempatnya menyampaikan argumen untuk memajukan NU ke depan. KH Masdar, misalnya, menyatakan bahwa kader NU harus dikembangkan sampai ke akar rumput. Salah satu program mengembangkan pendidikan dan membina jama'ah melalui masjid. |
Hasyim Muzadi: NU Butuh Lembaga Pengkaderan
Sabtu, 14 November 2009 16:19:43 |
Jakarta, Muktamar
Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang telah mengalami banyak masa perjuangan, membutuhkan sistem pengkaderan yang mapan bila ingin tetap dapat eksis sebagai organisasi yang terdepan berkualitas. Hal ini dapat diwujudkan dengan membentuk semacam lembaga pengkaderan dalam muktamar mendatang.
Demikian dinyatakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi di Jakarta, pekan ini. Menurut Hasyim, tugas lembaga pengkaderan ini adalah untuk merekrut kader-kader NU menjadi NU sepenuhnya melalui jalur indoktrinasi. |
Sambut Usulan Muslimat, PWNU Tak Ingin Pemerintah Intervensi NU
Jumat, 13 November 2009 11:09:58 |
Surabaya, Muktamar
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menyambut baik usulan Pengurus Pusat Muslimat terkait larangan rangkap jabatan. Muslimat mengusulkan, bagi pimpinan NU dan dan ketua badan otonom di lingkungan NU tidak diperbolehkan merangkap jabatan sebagai pejabat publik untuk menghindari adanya intervensi pemerintah terhadap NU.
Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Miftachul Akhyar menyatakan, pemerintah beserta seluruh jajaran birokrasinya semestinya tidak perlu mengintervensi NU. Birokrat dan pejabat pemerintah yang berasal dari NU juga mestinya tidak melakukan rangkap jabatan sebagai pimpinan NU atau badan Otonomnya. |
| Berita sebelumnya : |
|
Galeri |
|
| |
Agenda |
 | November 2009 |  | | Mg | Sn | Sl | Rb | Km | Jm | Sb | | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | | | | | |
|
|
|
|